Ini cerita nyata tentang perjuangan dua orang murid SMP Taruna Bakti yang dodol untuk mencari tinta Cina.
Bab 1
Pada suatu hari, ketika saya sedang berkelana menuju GOR Taruna Bakti, tiba-tiba April datang dan berkata, "Na, besok kata pa Edi bawa tinta Cina ya buat Fine Art." Saya sangat terkejut, karena saya tidak punya tinta Cina. Namun, saya tetap tegar dan melanjutkan perjalanan. Tidak tahunya, keesokan harinya ketika saya pergi berangkat menyongsong matahari pagi menuju sekolah, saya lupa membeli tinta Cina tadi. Saya pun bertekad untuk meminjam pada rekan-rekan saya. Namun, ketika saya sampai di sekolah, saya menerima berita yang sangat mengejutkan bahwa Dhiya dan Abigail tidak akan mengikuti pertemuan kali ini, hati saya pun tertohok. Saya pun mencari Ramadina dan Rachma dengan perasaan gundah, dan perasaan itu berubah menjadi shock ketika mereka pun berkata bahwa mereka tidak membawa tinta. Saya dan Ramadina pun memulai perjalanan kami mencari tinta Cina...
Bab 2
Saya dan Dina pun memulai perjalanan menuju Dick's, dan disana, kami menemui fakta bahwa tinta Cina yang sakral itu telah tiada... Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Stamp, sembari tidak tahu akan melakukan apa disana karena Stamp adalah toko pakaian. Kami pun memutar menuju Vertex, namun masih tidak menemukan toko yang menjual tinta Cina. Setelah capai, lelah dan hampir menyerah, Dina pun meneriakkan kata, "Kayaknya di jalan Sabang ada deh!". Semangat kami pun membara kembali, dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Sabang. Namun, tokonya tutup. Kami meneruskan perjalanan sampai akhirnya sampai di MM, dan orang yang menjaga MM itu berkata pada kami, "Oh, tinta Cina adanya di depan kantor polisi Cihapit ada...", lalu kami meneruskan perjalanan kami menuju... Cihapit.
Bab 3
Sesampainya di Cihapit, kami sudah sangat capai dan lelah, belum lagi kami berdua telah terjangkit penyakit Vampirisme dimana sang penderita tidak dapat tahan jika terkena sinar matahari. Disana, ternyata ada toko Cina. Dina berkata, "Ini toko Cina, aneh kalau nggak ada tinta Cina". Ternyata kawan-kawan... Ada! Kami pun pulang ke Taruna Bakti dengan hati gembira. Namun, sang tinta Cina itu sangat kecil! Tidak sebanding dengan perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan tinta tersebut. Setelah itu pula, ternyata sang tinta itu tidak jadi dipakai oleh pa Edi... Kami merasa dikhianati... Pa Edi memang kejam...
No comments:
Post a Comment
Comment if you want to, but if you didn't... It's perfectly fine, fine!
*Whispers some cursing words while you weren't listening*